semoga bermanfaat bagi pembaca...
bismillahirrahmanirrahim
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat-Nya kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan karya tulis ini. Shalawat dan salam tidak lupa penulis
panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kaum muslim dari zaman
yang gelap gulita dan penuh kebodohan kepada zaman yang terang benderang.
Kepada para keluarganya, para sahabatnya, para tabi’it-tabi’itnya, dan
mudah-mudahan sampai kepada kita semua sebagai umatnya yang masih taat
mengikuti ajaran beliau, dan sama-sama mengharapkan Safa’atul Uzma darinya di
hari akhir nanti.
Melalui
ini, penulis mencoba menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan mata kuliah
ilmu tasawuf metafisika, yaitu tentang definisi metafisika dan klasifikasinya,
tokoh tokoh pembela metafisika dan teori-teorinya, serta manfaat tasawuf
mtafisika bagi pengembangan ilmu.
Mengingat
keterbatasan ilmu yang penulis miliki, karya tulis ini mungkin jauh dari kata
sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik serta saran dari para
pembaca yang budiman agar terciptanya karya tulis yang lebh baik pada waktu
yang akan datang.
Tak lupa penulis mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya,
apabila terdapat kesalahan di dalam karya tulis ini, baik dalam segi penulisan
maupun penyampaian. Semoga karya tulis ini bermanfaat, khususnya bagi penulis
dan umumnya bagi pembaca sekalian. Amiin.
Bandung, Mei 2012
Penulis
i
Daftar
isi
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
Bab 1 : PENDAHULUAN
.................................................................................... iii
1.1 LATAR BELAKANG......................................................................... iii
1.2 RUMUSAN MASALAH.................................................................... iii
1.3 TUJUAN PENULISAN...................................................................... iii
1.4 METODE PENULISAN
................................................................... iii
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN .................................................. …… iii
Bab 2 : PEMBAHASAN .
.................................................... 1
2.1 Pengertian Tasawuf …………………………………………… 1
2.2.1 Tefinisi Tasawuf …………………………………… 1
2.2 Pengertian
Metafisika …………………………………………… 4
2.2.1 Definisi Metafisika …………………………………… 6
2.3 Klasifikasi
Metafisika …………………………………………… 6
2.4 Filsuf Pembela Metafisika ……………………………………… 8
2.5 Manfaat Metafisika bagi Pengembangan Ilmu …………………….. 9
2.6 Metafisika Serta Hubungan dengan Ilmu Pengetahuan …………… 10
2.6.1
Pemilahan Metafisika ……………………………………… 10
2.6.2
Asumsi dalam Ilmu Pengetahuan ………………………….. 11
2.7 Hubungan Metafisika,
Epistemologi, Aksiologi dan Logika ……………. 11
Bab 3 : PENUTUP ............................................................................................ 12
3.1 KESIMPULAN …………………………………………………. 12
DAFTAR
PUSTAKA
........................................................................................ 14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Cabang filsafat
yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia adalah Metafisika
Dimana di dalamnya menjelaskan studi keberadaan atau realitas.
Manusia mempunyai
beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang
dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib
(supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa
dibandingkan dengan alam yang nyata.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun beberapa
masalah yang akan kita kaji dalam makalah ini. diantaranya :
- apa definisi dari tasawuf metafisika dan klasifikasinya.?
- siapa tokoh-tokoh tasawuf metafisika dan teori-teorinya.?
- apa manfaat tasawuf metafisika bagi pengembangan ilmu.?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan yang
diharapkan dalam pembuatan makalah ini adalah
1.
mengetahui
definisi dari tasawuf metafisika, serta mengetahui klasifikasinya.
2.
mengetahui
tokoh-tokoh dari ilmu tasawuf metafisika dan teori-teorinya.
3.
mengetahui
manfaat ilmu tasawuf metafisika bagi pengembangan ilmu.
1.4 METOODE PENULISAN
Dalam
penulisan makalah kali ini penulis menggunakan salah satu metode yang sering
digunakan. Yaitu, metode kualitatif, dengan melihat sumber-sumber dari buku,
media dan lain sebagainya.
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini
ditulis secara sistematis, terdiri dari 3 bab, 18 lembar ( 1 lembar cover, 1
lembar kata pengantar, 1 lembar daftar isi, 1 lembar Bab I, 11 lembar Bab II, 2 lembar Bab III,1 lembar daftar pustaka), 11 halaman penjelasan, yang disusun dalam kertas jenis HVS
berukuran A4 (21cm x 29,7cm) dan menggunakan ukuran huruf 12 & 16.
iii
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tasawuf
2.1.1 Definisi Tasawuf
Menurut
imam Al-Junaidi, beliau berkata : “ilmu tasawuf aalah ilmu yang mempelajari
usaha-usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan
menuju kesucian dengan makrifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar
manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syariat
Rasulullah S.A.W., dalam mendekatkan diri dan mencapai keridhoan-Nya”.
Istilah "tasawuf" (sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad,
dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha,
wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal darishafa yang
berarti kesucian.Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja
bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini
sering dikutip dalam literatur sufi.Sebagian
berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti barisatau
deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertamadalam
salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwakata itu
berasal dari shuffa, ini serambi
rendah terbuat dari tanah liat dan sedikitnyembul
di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskinberhati baik yang mengikuti beliau sering
duduk-duduk. Ada pula yangmenganggap
bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba,yang me-
nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batinkurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan
sering memakai jubahsederhana yang
terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.
Apa pun asalnya, istilahtasawuf
berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang
tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan
pencerahan batin.
Penting diperhatikan bahwa istilah
ini hampir tak pernah digunakan pada duaabad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau
musuh-musuh mereka,mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah
terdengar di masa hidupNabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang
hidup setelah mereka.
Namun, di abad kedua dan ketiga
setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya
sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti
bahwa merekamengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan
pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan)
orang-orang yang menyembah
Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat
mereka. Inilah makna istilah tasawuf
sepanjang zaman dalam konteks Islam.
Dibawah ini adalah definisi
tasawuf dari beberapa syekh besar sufi:
Imam
Junaid dari Baghdad (m.910)
mendefinisikan tasawuf sebagai"mengambil
setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah".
Syekh Abul
Hasan asy-Syadzili (m.1258)
syekh
sufi besar dari Arika Utara,mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan
diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan
Tuhan".
Syekh Ahmad Zorruq
(m.1494)
dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:
Ilmu yang dengannya Anda
dapat memperbaiki hati dan menjadikannyasemata-mata
bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Andatentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan,untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam
batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata .Ia
menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan
dan kepastian; apabila tidak demikian maka
Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan 'hati”.
Syekh Ibn Ajiba
(m.1809)
Tasawuf adalah
suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian
batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan
akhirnva adalah karunia Ilahi.
Syekh as-Suyuth
Dia berkata, "Sufi
adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada
Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk".Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti
ini,dapatlah disimpulkan bahwa basis
tasawuf ialah penyucian "hati" dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan
yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya.
Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk
menyucikan "hati"-nya dan menegakkan
hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang
benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad S.A.W. Dalam konteks Islam tradisional tasawuf
berdasarkan pada kebaikan budi (
adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum
sufi yang benar akanmempraktikkan
pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum
Islam, yakni dengan menegakkan hukum
dan ketentuan-ketentuan Islam yang
tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah.
Jadi,tasawuf dimulai dengan
mendapatkan pengetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun,
mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar. Adalah keliru
mengira bahwa seorang sufi dapat mencapai buah-buah tasawuf, yakni cahaya
batin, kepastian dan pengetahuan tentang Allah (ma'rifah) tanpa memelihara kulit
pelindung lahiriah yang berdasarkan padaketaatan
terhadap tuntutan hukum syariat.
Perilaku lahiriah yang
benar ini perilaku fisik didasarkan pada doa
dan pelaksanaan salat serta semua amal ibadah ritual yang telah
ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mencapai kewaspadaan "hati",
bersama suasana hati dan keadaan yang menyertainya.
Kemudian orang dapat maju pada tangga penyucian dari niat rendahnya menuju cita-cita yang lebih tinggi,
dari kesadaran akan ketamakan dan kebanggaan menuju kepuasan yang rendah
hati (tawadu') dan mulia. Pekerjaan batin harus diteruskan dalam situasi
lahiriah yang terisi dan terpelihara baik.
2.2 Pengertian Metafisika
Metafisika (Bahasa Yunani: μετά
(meta) = "setelah atau di balik", φύσικα (phúsika) =
"hal-hal di alam") adalah cabang filsafat
yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia.
Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas.
Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari
suatu realitas? Apakah Tuhan
ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?
Cabang utama metafisika
adalah ontologi,
studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan
lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia
mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan
kemungkinan.
Penggunaan istilah
"metafisika" telah berkembang untuk merujuk pada "hal-hal yang
di luar dunia fisik". "Toko buku metafisika", sebagai contoh,
bukanlah menjual buku mengenai ontologi, melainkan lebih kepada buku-buku
mengenai ilmu gaib, pengobatan alternatif, dan
hal-hal sejenisnya.
Beberapa Tafsiran
Metafisika Dalam menafsirkan hal ini, manusia mempunyai beberapa pendapat
mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh
manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supernatural) dan
hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan
alam yang nyata. Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari
sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme.
Selain paham di atas,
ada juga paham yang disebut paham naturalisme. paham ini amat bertentangan
dengan paham supernaturalisme. Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala
alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena
kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dapat
diketahui. Orang-orang yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti
itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata,
sehingga mereka mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu.
Dari paham naturalisme
ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan
manusia berasal dari materi. Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460-370
S.M). Adapun bagi mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup.
Timbul dua tafsiran yang masing saling bertentangan yakni paham mekanistik dan
paham vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup)
hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup
adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar
gejala kimia-fisika semata.
Berbeda halnya dengan
telaah mengenai akal dan pikiran, dalam hal ini ada dua tafsiran yang juga
saling berbeda satu sama lain. Yakni paham monoistik dan dualistik. sudah
merupakan aksioma bahwa proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan
tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik mempunyai
pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat, keduanya (pikiran dan
zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun
mempunyai subtansi yang sama. Pendapat ini ditolak oleh kaum yang menganut
paham dualistik.
Dalam metafisika,
penafsiran dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi
mereka berbeda secara substansif. Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap
oleh pikiran adalah bersifat mental. Maka yang bersifat nyata adalah pikiran,
sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
Ada pula yang menyebutkan bahwa Metafisika
berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri atas dua kata yaitu meta dan pysika.
Meta artinya sesudah atau dibalik sesuatu dan pyisika artinya nyata,
kongkrit yang dapat diukur oleh jangkauan panca indera. Eksistentsinya dibalik
sesudah fisik ( meta fisik ) perlu dikaji. Istilah metafisika
diketemukan Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya
Aristoteles, dan menemukan suatu bidang diluar bidang fisika atau disiplin ilmu
lain. Ilmu untuk mengkaji tentang sesuatu dibalik yang fisik atausesuatu
sesudah yang fisik disebut ontology. Metafisika secara tradisional
didefiniskan sebagai pengtahuan tentang pengada (Being). (Runnes, 1979 :
196).
2.2.1 Definisi Metafisika
Metafisika; upaya untuk menjawab
problem tentang realitas yang lebih umum, komprehensif, atau lebih fundamental
daripada ilmu (White, 1987 : 1).
Metafisika; upaya untuk merumuskan
fakta yang paling umum dan luas tentang dunia termasuk penyebutan kategori yang
paling dasar dan hubungan diantara kategori tersebut (Alston : 1964 : 4).
2.3 Klasifikasi Metafisika
(C. Wolff) Metaphysica Generalis (Ontologi);
ilmu tentang yang ada atau pengada. Metapysica Specialis terdiri atas :
1. Antropologi; menelaah tentang
hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga.
2. Kosmologi; menelaah tentang
asal-usul dan hakikat alam semesta.
3. Theologi; kajian tentang Tuhan
secara rasional.
Antropologi Filasafati
- Hakikat Kodrat Manusia
- Susunan Kodrat
- Sifat Kodrat
- Kedudukan Kodrat
- Kosmologi Filsafati
Filasafat alam berusaha mencari asal
alam semesta Thales berpendapat sebagai arche. Filsafat alam menyelidiki
gerak di alam semesta yang merupakan penyebab adanya perubahan (change).
Dalil
Pembuktian Tuhan
Ontologis (anselmus) berpendapat
bahwa segala sesuatu di dunia tidakada yang sempurna melainkan hanya
memperlihatkan tingkatan-tingkatannya (gradasi). Oki, tentu ada satu yang
paling sempurna untuk mengatasi semua ketidak sempurnaan itu yakni the perfect
being.
Menurut
Kosmologis Aristoteles
Bahwa alam semesta ditentukan oleh
gerak (Motion). Gerak merupakan penyebab terjadinya perubahan yaitu change
dialam semesta. Akhirnya akal manusia tiba pada suatu titik ultimate yaitu
sumber penyeban dari semua gerak.
Dalil
Teleologis (William Paley)
Bebda-benda di ruang alam semesta
itu memiliki gerak yang bertujuan (Teleos), sehingga alam semesta ini merupakan
karya seni terbesar yang membuktikan adanya A Greater Intelligent Designer.
Dalil
Etis menurut I.Kant
Pada setiap diri manusia terdapat
dua kecenderungan yang bersifat niscaya yaitu keinginan untuk hidup bahagia dan
berbuat baik. Kedua cenderung akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia
apabila dijamin oleh 3 Postulat, yaitu kebebasan kehendak (free will) keabadian
jiwa (Immortality), dan tuhan (god) sebagai penjamin hukum moral (Law giver).
David Hume :
· Metafisika itu cara berfikir yang
menyesatkan (sophistry) dan khayalan (Illusion). Sebaiknya karya metafisika itu
dimusnahkan,karena tidak mengandung isi apa-apa.
· Metafisika bukanlah sesuatu yang dapat dipersepsi
oleh indera manusia, sehingga merupakan sesuatu yang senseless.
Alfred Jules Ayer
·
Metafisika adalah parasit dalam kehidupan ilmiah yang dapat menghalangi
kemajuan ilmu pengetahuan, OKI metafisika harus dieliminasi dari dunia ilmiah.
· Problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah
problem semu (Pseudo-Problems), artinya permasalahan yang tidak
memungkinkan untuk dijawab.
Ludwig Wittgenstain
·
Metafisika itu bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan
(Innexpressible) ke dalam bahasa yang bersifat logis.
· Ada tiga persoalan metafisika,
yaitu : (1) Subject does not belong to the world; reather it is a limit of the
world. (2) That is not an event in life, we do not live to experience that. (3)
God does not reveal him self in the world.
· Kesimpulan : “ sesuatu yang tak
dapat diungkapkan secara logis sebaiknya di diamkan saja”.(What we cannot speak
about we must fast over in silence!).
2.4 Filsuf
Pembela Metafisika
Plotinos
:
Semua
pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan dan
mutlak. To Hen beremanasi pada Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe
(jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah,
yaitu meion.
Karl
Jaspers
· Metafisika merupakan upaya
memahami Chiffer ; symbol yang mengantarai eksistensi dan transendensi.
· Manusia adalah Chiffer paling
unggul, karena banyak dimensi kenyataan bertemu dalam diri manusia.
· Manusia
merupakan suatu mikrokosmos, pusal kenyataan; alam, sejarah, kesadaran, dan
kebebasan ada dalam diri manusia.
· Metafisika : berarti membaca
Chiffer, transendensi keilahian, sebagai kehadiran tersembunyi.
· Chiffer adalah jejak, cermin, gema
atau bayangan transendensi.
2.5 Manfaat Metafisika bagi Pengembangan
Ilmu
1.
Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika
kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok
dari luar, antara lain : metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan
historis. (Kuhn)
2. Metafisika mengajarkan cara
berfikir yang serius, terutama dalam menjawab promlem yang bersifat enigmatif
(teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang
mendalam.(Kennick)
3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended,
sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas
baru.(Kuhn)
4. Perdebatan dalam metafisika
melahirkan berbagai aliran, mainstream seperti : Monisme, Dualisme,
Pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu
(Kennick)
5. Metafisika menuntut orisinalitas
berfikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berfikir yang cenderung
subjektif dan menciptakan terminology filsafat yang khas. Situasi semacam ini
diperlukan untuk pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan heuristika.(Van
Peursen)
6. Metafisika mengajarkan pada
peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai
kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptic Descartes
hanya dapat diperoleh jika kita menggunakan metode deduksi yang bertitik
tolak dari premis yang paling kuat (Cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes.
7.
Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki
kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri,
sesame, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggungjawab
di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang
sarat dengan nilai (not value-free). (Bakker)
8. Metafisika mengandung potensi
untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain.
Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak
hanya antar ilmuwan sejenis, tetepi juga antar disiplin ilmu, sehingga
memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan.(Bakker).
2.6
Metafisika Serta Hubungan dengan Ilmu Pengetahuan
Istilah metafisika
berasal dari bahasa Yunani ta meta fisika yang berarti sesudah fisika.
Istilah ini merupakan penamaan yang diberikan oleh Andronikos terhadap
karya-karya Aristoteles yang membicarakan hal-hal diluar fisika.
Metafisika sering disebut sebagai disiplin filsafat yang terumit dan memerlukan daya abstraksi yang sangat tinggi. Bermetafisika membutuhkan energi intelektual yang sangat besar sehingga membuat tidak semua orang berminat untuk menekuninya. Sebenarnya tradisi bermetafisika sendiri sudah ada sejak zaman Yunani dengan para filosof-filosofnya yaitu Thales, Plato dan Aristoteles .
Metafisika sering disebut sebagai disiplin filsafat yang terumit dan memerlukan daya abstraksi yang sangat tinggi. Bermetafisika membutuhkan energi intelektual yang sangat besar sehingga membuat tidak semua orang berminat untuk menekuninya. Sebenarnya tradisi bermetafisika sendiri sudah ada sejak zaman Yunani dengan para filosof-filosofnya yaitu Thales, Plato dan Aristoteles .
2.6.1
Pemilahan metafisika
Prote phylosophya (filsafat pertama) yang
dikembangkan oleh Aristoteles sesungguhnya memiliki dua obyek kajian. Yaitu, pertama,
‘yang ‘ada’ sebagai yang ‘ada’. Kedua, yang
ilahi. Fokos kajian filsafat yang pertama pada yang ‘ada’ sebagai yang ‘ada’
maksudnya ialah fokus kajian pada realitas dalam dirinya sendiri, yang
sungguh-sungguh nnyata, dalam artian terlepas dari hal konkret seperti rumah,
pohon dll. Melainkan merangkumnya sejauh mereka berbagi kerakteristik umum
yaitu ‘ada’. Fokus kajian metafisika pada yang ilahi maksudnya
ialah fokus kajian pada realitas terdalam yang berada diluar pencerapan
inderawi dan menjadi dasar absolut bagi semua keadaan yang bersifat relatif.
Aristoteles
membagi filsafat pertama (metafisika) menjadi dua bagian:
1. Methaphysica generalis (metafisika umum) atau juga yang sering disebut ontology
Ontologi
adalah disiplin yang berurusan dengan yang ‘ada’ sebagai yang ‘ada’,
sebagai lawan dari disiplin yang berurusan dengan partikular yang
‘ada’ seperti fisika, biologi, fisika dan lain-lain. Ontologi berasal
dari kata Yunani: to on hei on, kata Yunani yang merupakan bentuk netral
dari oon, dengan bentuk generatifnya ontos; artinya yang ‘ada’
sebagai yang ‘ada’ (a being as being). Istilah ontologi
diperkenalkan ke dalam filsafat oleh seorang cendekiawan Skolastik-Protestan
asal Jerman, Rudolphus Gocleneius dalam bukunya Philosophicum.
2. Methaphysica specialis (metafisika khusus).
Metafisika
khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam budang-bidang khusus.
meliputi; teologi, kosmologi, dan psikologi. Selanjutnya metafisika khusus
disebut sebagai metafisika. Metafisika mengkaji realitas yang tidak dicerap
oelh indera apakah itu ketuhanan (teologi), semesta alam keseluruhan (kosmologi),
maupun kejiwaan (psikologi). Jadi ada tiga obyek kajian. Antara lain;
kosmologi (semesta), psikologi (jiwa), dan teologi (tuhan).
2.6.2
Asumsi dalam Ilmu Pengetahuan
Setiap ilmu selalu memerlukan
asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi
lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan
asumsi yang lebih banyak.
Asumsi
dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektual suatu jalur pemikiran.
Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan
tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul
kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat.
Jenis-Jenis
Asumsi:
Aksioma yaitu pernyataan yang disetujui
umum tanpa memerlukan pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan sendiri.
Postulat adalah pernyataan yang dimintakan
persetujuan umum tanpa pembuktian, atau suatu fakta yang hendaknya diterima
saja sebagaimana adanya.
2.7 Hubungan
Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika
Hubungan metafisika dengan
epistemology terletak pada kebenaran (truth) sebagai titik omega bagi
pencapaian pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ilmu
tasawuf aalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri, berjuang
memerangi hawa nafsu, mencari jalan menuju kesucian dengan makrifat menuju
keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji
Allah dan mengikuti syariat Rasulullah S.A.W., dalam mendekatkan diri dan
mencapai keridhoan-Nya.
Metafisika (Bahasa Yunani: μετά
(meta) = "setelah atau di balik", φύσικα (phúsika) =
"hal-hal di alam") adalah cabang filsafat
yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika
adalah studi keberadaan atau realitas.
Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari
suatu realitas? Apakah Tuhan
ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?
Tokoh
pembela metafisika Plotinos : Semua
pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan dan
mutlak. To Hen beremanasi pada Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe
(jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah,
yaitu meion.
Karl
Jaspers
· Metafisika merupakan upaya
memahami Chiffer ; symbol yang mengantarai eksistensi dan transendensi.
· Manusia adalah Chiffer paling
unggul, karena banyak dimensi kenyataan bertemu dalam diri manusia.
· Manusia merupakan suatu mikrokosmos,
pusal kenyataan; alam, sejarah, kesadaran, dan kebebasan ada dalam diri
manusia.
· Metafisika : berarti membaca
Chiffer, transendensi keilahian, sebagai kehadiran tersembunyi.
· Chiffer adalah jejak, cermin, gema
atau bayangan transendensi.
Manfaat tasawuf
metafisika bagi pengembangan ilmu, mengajarkan cara berfikir yang serius, mengajarkan
sikap open-ended, melahirkan berbagai aliran, menuntut orisinalitas
berfikir, mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama
(First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir, kunci bagi akhir
pengada, mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu
dengan pengada yang lain, membentuk paradigm ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Prof.
Dr. M. solihin M.Ag., Ilmu tasawuf,pustaka setia bandung. 2011
(http://www.scribd.com/doc/460794/Definisi-Tasawuf)
http://hetiindriawati.blogspot.com/2009/11/makalah-metafisika.html
http://aftanet.blogspot.com/2011/05/metafisika-hubungan-asumsi-terhadap.html

No comments:
Post a Comment