Friday, 25 May 2012

contoh makalah metafisika

ini adalah contoh makalah ilmu tasawuf metafisika,
semoga bermanfaat bagi pembaca...

bismillahirrahmanirrahim


KATA PENGANTAR


            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan karya tulis  ini. Shalawat dan salam tidak lupa penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kaum muslim dari zaman yang gelap gulita dan penuh kebodohan kepada zaman yang terang benderang. Kepada para keluarganya, para sahabatnya, para tabi’it-tabi’itnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita semua sebagai umatnya yang masih taat mengikuti ajaran beliau, dan sama-sama mengharapkan Safa’atul Uzma darinya di hari akhir nanti.
            Melalui ini, penulis mencoba menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan mata kuliah ilmu tasawuf metafisika, yaitu tentang definisi metafisika dan klasifikasinya, tokoh tokoh pembela metafisika dan teori-teorinya, serta manfaat tasawuf mtafisika bagi pengembangan ilmu.
            Mengingat keterbatasan ilmu yang penulis miliki, karya tulis ini mungkin jauh dari kata sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik serta saran dari para pembaca yang budiman agar terciptanya karya tulis yang lebh baik pada waktu yang akan datang.
Tak lupa penulis mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila terdapat kesalahan di dalam karya tulis ini, baik dalam segi penulisan maupun penyampaian. Semoga karya tulis ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca sekalian. Amiin.






Bandung,          Mei 2012




Penulis




i
Daftar isi

KATA PENGANTAR ..........................................................................................                i
DAFTAR ISI  .......................................................................................................                 ii
Bab 1 : PENDAHULUAN ....................................................................................                iii
1.1  LATAR BELAKANG.........................................................................                iii
1.2  RUMUSAN MASALAH....................................................................                iii
1.3  TUJUAN PENULISAN......................................................................                iii
1.4  METODE PENULISAN  ...................................................................                iii
1.5  SISTEMATIKA PENULISAN ..................................................      ……                iii
Bab 2 : PEMBAHASAN                                . ....................................................                  1
            2.1       Pengertian Tasawuf    ……………………………………………                1
                        2.2.1 Tefinisi Tasawuf            ……………………………………                1
            2.2       Pengertian Metafisika ……………………………………………                4
                        2.2.1 Definisi Metafisika        ……………………………………                6
            2.3       Klasifikasi Metafisika ……………………………………………                6
2.4        Filsuf Pembela Metafisika       ………………………………………                8
2.5        Manfaat Metafisika bagi Pengembangan Ilmu ……………………..                9
2.6       Metafisika Serta Hubungan dengan Ilmu Pengetahuan ……………                 10
      2.6.1 Pemilahan Metafisika     ………………………………………                10
2.6.2        Asumsi dalam Ilmu Pengetahuan …………………………..                11
2.7 Hubungan Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika …………….              11
Bab 3 : PENUTUP    ............................................................................................                 12
            3.1 KESIMPULAN    ………………………………………………….                   12
DAFTAR PUSTAKA   ........................................................................................                 14













ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG

Cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia adalah Metafisika Dimana di dalamnya menjelaskan studi keberadaan atau realitas.
Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.

1.2    RUMUSAN MASALAH
Adapun beberapa masalah yang akan kita kaji dalam makalah ini. diantaranya :
  1. apa definisi dari tasawuf metafisika dan klasifikasinya.?
  2. siapa tokoh-tokoh tasawuf metafisika dan teori-teorinya.?
  3. apa manfaat tasawuf metafisika bagi pengembangan ilmu.?

1.3    TUJUAN PENULISAN
Tujuan yang diharapkan dalam pembuatan makalah ini adalah
1.        mengetahui definisi dari tasawuf metafisika, serta mengetahui klasifikasinya.
2.        mengetahui tokoh-tokoh dari ilmu tasawuf metafisika dan teori-teorinya.
3.         mengetahui manfaat ilmu tasawuf metafisika bagi pengembangan ilmu.

1.4    METOODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah kali ini penulis menggunakan salah satu metode yang sering digunakan. Yaitu, metode kualitatif, dengan melihat sumber-sumber dari buku, media dan lain sebagainya.

1.5    SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini ditulis secara sistematis, terdiri dari 3 bab, 18 lembar ( 1 lembar cover,  1 lembar kata pengantar, 1 lembar daftar isi, 1 lembar Bab I, 11 lembar Bab II, 2 lembar Bab III,1 lembar daftar pustaka), 11 halaman penjelasan, yang disusun dalam kertas jenis HVS berukuran A4 (21cm x 29,7cm) dan menggunakan ukuran huruf 12 & 16.
iii
   
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Tasawuf
2.1.1 Definisi Tasawuf
Menurut imam Al-Junaidi, beliau berkata : “ilmu tasawuf aalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan menuju kesucian dengan makrifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syariat Rasulullah S.A.W., dalam mendekatkan diri dan mencapai keridhoan-Nya”.
Istilah "tasawuf" (sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal darishafa yang berarti kesucian.Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi.Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti barisatau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertamadalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwakata itu berasal dari shuffa, ini serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikitnyembul di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskinberhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk. Ada pula yangmenganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba,yang me- nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batinkurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubahsederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.
Apa pun asalnya, istilahtasawuf  berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin.
Penting diperhatikan bahwa istilah ini hampir tak pernah digunakan pada duaabad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau musuh-musuh mereka,mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah terdengar di masa hidupNabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.
Namun, di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa merekamengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.
Dibawah ini adalah definisi tasawuf dari beberapa syekh besar sufi:
Imam Junaid dari Baghdad (m.910)
mendefinisikan tasawuf sebagai"mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah".
Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258)
syekh sufi besar dari Arika Utara,mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan".
Syekh Ahmad Zorruq (m.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:
Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannyasemata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Andatentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan,untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata .Ia menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan 'hati”.

Syekh Ibn Ajiba (m.1809)
Tasawuf  adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.
Syekh as-Suyuth
Dia berkata, "Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk".Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini,dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian "hati" dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya.
Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan "hati"-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad S.A.W. Dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akanmempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan  ketentuan-ketentuan Islam yang tepat,  yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah.
Jadi,tasawuf dimulai dengan mendapatkan pengetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar. Adalah keliru mengira bahwa seorang sufi dapat mencapai buah-buah tasawuf, yakni cahaya batin, kepastian dan pengetahuan tentang Allah (ma'rifah) tanpa memelihara kulit pelindung lahiriah yang berdasarkan padaketaatan terhadap tuntutan hukum syariat.
Perilaku lahiriah yang benar ini perilaku fisik didasarkan pada doa dan pelaksanaan salat serta semua amal ibadah ritual yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mencapai kewaspadaan "hati", bersama suasana hati dan keadaan yang menyertainya. Kemudian orang dapat maju pada tangga penyucian dari niat rendahnya menuju cita-cita yang lebih tinggi, dari kesadaran akan ketamakan dan kebanggaan menuju kepuasan yang rendah hati (tawadu') dan mulia. Pekerjaan batin harus diteruskan dalam situasi lahiriah yang terisi dan terpelihara baik.
2.2  Pengertian Metafisika
Metafisika (Bahasa Yunani: μετά (meta) = "setelah atau di balik", φύσικα (phúsika) = "hal-hal di alam") adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?
Cabang utama metafisika adalah ontologi, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.
Penggunaan istilah "metafisika" telah berkembang untuk merujuk pada "hal-hal yang di luar dunia fisik". "Toko buku metafisika", sebagai contoh, bukanlah menjual buku mengenai ontologi, melainkan lebih kepada buku-buku mengenai ilmu gaib, pengobatan alternatif, dan hal-hal sejenisnya.
Beberapa Tafsiran Metafisika Dalam menafsirkan hal ini, manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supernatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme.
Selain paham di atas, ada juga paham yang disebut paham naturalisme. paham ini amat bertentangan dengan paham supernaturalisme. Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dapat diketahui. Orang-orang yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu.
Dari paham naturalisme ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi. Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460-370 S.M). Adapun bagi mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup. Timbul dua tafsiran yang masing saling bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar gejala kimia-fisika semata.
Berbeda halnya dengan telaah mengenai akal dan pikiran, dalam hal ini ada dua tafsiran yang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni paham monoistik dan dualistik. sudah merupakan aksioma bahwa proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat, keduanya (pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai subtansi yang sama. Pendapat ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistik.
Dalam metafisika, penafsiran dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara substansif. Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh pikiran adalah bersifat mental. Maka yang bersifat nyata adalah pikiran, sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
Ada pula yang menyebutkan bahwa Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri atas dua kata yaitu meta dan pysika. Meta artinya sesudah atau dibalik sesuatu dan pyisika artinya nyata, kongkrit yang dapat diukur oleh jangkauan panca indera. Eksistentsinya dibalik sesudah fisik ( meta fisik ) perlu dikaji. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles, dan menemukan suatu bidang diluar bidang fisika atau disiplin ilmu lain. Ilmu untuk mengkaji tentang sesuatu dibalik yang fisik atausesuatu sesudah yang fisik disebut ontology. Metafisika secara tradisional didefiniskan sebagai pengtahuan tentang pengada (Being). (Runnes, 1979 : 196).

2.2.1 Definisi Metafisika
Metafisika; upaya untuk menjawab problem tentang realitas yang lebih umum, komprehensif, atau lebih fundamental daripada ilmu (White, 1987 : 1).
Metafisika; upaya untuk merumuskan fakta yang paling umum dan luas tentang dunia termasuk penyebutan kategori yang paling dasar dan hubungan diantara kategori tersebut (Alston : 1964 : 4).

2.3  Klasifikasi Metafisika
(C. Wolff) Metaphysica Generalis (Ontologi); ilmu tentang yang ada atau pengada. Metapysica Specialis terdiri atas :
1. Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga.
2. Kosmologi; menelaah tentang asal-usul dan hakikat alam semesta.
3. Theologi; kajian tentang Tuhan secara rasional.
Antropologi Filasafati
  • Hakikat Kodrat Manusia
  • Susunan Kodrat
  • Sifat Kodrat
  • Kedudukan Kodrat
  • Kosmologi Filsafati

Filasafat alam berusaha mencari asal alam semesta Thales berpendapat sebagai arche. Filsafat alam menyelidiki gerak di alam semesta yang merupakan penyebab adanya perubahan (change).
Dalil Pembuktian Tuhan
Ontologis (anselmus) berpendapat bahwa segala sesuatu di dunia tidakada yang sempurna melainkan hanya memperlihatkan tingkatan-tingkatannya (gradasi). Oki, tentu ada satu yang paling sempurna untuk mengatasi semua ketidak sempurnaan itu yakni the perfect being.
Menurut Kosmologis Aristoteles
Bahwa alam semesta ditentukan oleh gerak (Motion). Gerak merupakan penyebab terjadinya perubahan yaitu change dialam semesta. Akhirnya akal manusia tiba pada suatu titik ultimate yaitu sumber penyeban dari semua gerak.
Dalil Teleologis (William Paley)
Bebda-benda di ruang alam semesta itu memiliki gerak yang bertujuan (Teleos), sehingga alam semesta ini merupakan karya seni terbesar yang membuktikan adanya A Greater Intelligent Designer.
Dalil Etis menurut I.Kant
Pada setiap diri manusia terdapat dua kecenderungan yang bersifat niscaya yaitu keinginan untuk hidup bahagia dan berbuat baik. Kedua cenderung akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia apabila dijamin oleh 3 Postulat, yaitu kebebasan kehendak (free will) keabadian jiwa (Immortality), dan tuhan (god) sebagai penjamin hukum moral (Law giver).
David Hume :
· Metafisika itu cara berfikir yang menyesatkan (sophistry) dan khayalan (Illusion). Sebaiknya karya metafisika itu dimusnahkan,karena tidak mengandung isi apa-apa.
· Metafisika bukanlah sesuatu yang dapat dipersepsi oleh indera manusia, sehingga merupakan sesuatu yang senseless.
Alfred Jules Ayer
· Metafisika adalah parasit dalam kehidupan ilmiah yang dapat menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, OKI metafisika harus dieliminasi dari dunia ilmiah.
· Problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu (Pseudo-Problems), artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab.
Ludwig Wittgenstain
· Metafisika itu bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan (Innexpressible) ke dalam bahasa yang bersifat logis.
· Ada tiga persoalan metafisika, yaitu : (1) Subject does not belong to the world; reather it is a limit of the world. (2) That is not an event in life, we do not live to experience that. (3) God does not reveal him self in the world.
· Kesimpulan : “ sesuatu yang tak dapat diungkapkan secara logis sebaiknya di diamkan saja”.(What we cannot speak about we must fast over in silence!).

2.4 Filsuf Pembela Metafisika
Plotinos :
Semua pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan dan mutlak. To Hen beremanasi pada Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe (jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah, yaitu meion.
Karl Jaspers
· Metafisika merupakan upaya memahami Chiffer ; symbol yang mengantarai eksistensi dan transendensi.
· Manusia adalah Chiffer paling unggul, karena banyak dimensi kenyataan bertemu dalam diri manusia.
· Manusia merupakan suatu mikrokosmos, pusal kenyataan; alam, sejarah, kesadaran, dan kebebasan ada dalam diri manusia.
· Metafisika : berarti membaca Chiffer, transendensi keilahian, sebagai kehadiran tersembunyi.
· Chiffer adalah jejak, cermin, gema atau bayangan transendensi.
2.5  Manfaat Metafisika bagi Pengembangan Ilmu
1. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar, antara lain : metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan historis. (Kuhn)
2. Metafisika mengajarkan cara berfikir yang serius, terutama dalam menjawab promlem yang bersifat enigmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam.(Kennick)
3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.(Kuhn)
4. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream seperti : Monisme, Dualisme, Pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu (Kennick)
5. Metafisika menuntut orisinalitas berfikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminology filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan heuristika.(Van Peursen)
6. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika kita menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling kuat (Cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes.
7. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggungjawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai (not value-free). (Bakker)
8. Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetepi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan.(Bakker).
2.6 Metafisika Serta Hubungan dengan Ilmu Pengetahuan

Istilah metafisika berasal dari bahasa Yunani ta meta fisika yang berarti sesudah fisika. Istilah ini merupakan penamaan yang diberikan oleh Andronikos terhadap karya-karya Aristoteles yang membicarakan hal-hal diluar fisika.
Metafisika sering disebut sebagai disiplin filsafat yang terumit dan memerlukan daya abstraksi yang sangat tinggi. Bermetafisika membutuhkan energi intelektual yang sangat besar sehingga membuat tidak semua orang berminat untuk menekuninya. Sebenarnya tradisi bermetafisika sendiri sudah ada sejak zaman Yunani dengan para filosof-filosofnya yaitu Thales, Plato dan Aristoteles .
2.6.1 Pemilahan metafisika
Prote phylosophya (filsafat pertama) yang dikembangkan oleh Aristoteles sesungguhnya memiliki dua obyek kajian. Yaitu, pertama, ‘yang ‘ada’ sebagai yang ‘ada’. Kedua, yang ilahi. Fokos kajian filsafat yang pertama pada yang ‘ada’ sebagai yang ‘ada’ maksudnya ialah fokus kajian pada realitas dalam dirinya sendiri, yang sungguh-sungguh nnyata, dalam artian terlepas dari hal konkret seperti rumah, pohon dll. Melainkan merangkumnya sejauh mereka berbagi kerakteristik umum yaitu ‘ada’. Fokus kajian metafisika pada yang ilahi maksudnya ialah fokus kajian pada realitas terdalam yang berada diluar pencerapan inderawi dan menjadi dasar absolut bagi semua keadaan yang bersifat relatif.

Aristoteles membagi filsafat pertama (metafisika) menjadi dua bagian:

1.      Methaphysica generalis (metafisika umum) atau juga yang sering disebut ontology
Ontologi adalah disiplin yang berurusan dengan yang ‘ada’  sebagai yang ‘ada’, sebagai lawan dari disiplin yang berurusan dengan partikular  yang ‘ada’ seperti fisika, biologi, fisika dan lain-lain. Ontologi berasal dari kata Yunani: to on hei on, kata Yunani yang merupakan bentuk netral dari oon, dengan bentuk generatifnya ontos; artinya yang ‘ada’  sebagai yang ‘ada’ (a being as being). Istilah ontologi diperkenalkan ke dalam filsafat oleh seorang cendekiawan Skolastik-Protestan asal Jerman, Rudolphus Gocleneius dalam bukunya Philosophicum.
2.      Methaphysica specialis (metafisika khusus).
Metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam budang-bidang khusus. meliputi; teologi, kosmologi, dan psikologi. Selanjutnya metafisika khusus disebut sebagai metafisika. Metafisika mengkaji realitas yang tidak dicerap oelh indera apakah itu ketuhanan (teologi), semesta alam keseluruhan (kosmologi), maupun kejiwaan (psikologi). Jadi ada tiga obyek kajian. Antara lain; kosmologi (semesta), psikologi (jiwa), dan teologi (tuhan).

2.6.2 Asumsi dalam Ilmu Pengetahuan
Setiap ilmu selalu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak.
Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektual suatu jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat.
Jenis-Jenis Asumsi:
Aksioma yaitu pernyataan yang disetujui umum tanpa memerlukan pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan sendiri.
Postulat adalah pernyataan yang dimintakan persetujuan umum tanpa pembuktian, atau suatu fakta yang hendaknya diterima saja sebagaimana adanya.

2.7  Hubungan Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika
Hubungan metafisika dengan epistemology terletak pada kebenaran (truth) sebagai titik omega bagi pencapaian pengetahuan.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ilmu tasawuf aalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan menuju kesucian dengan makrifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syariat Rasulullah S.A.W., dalam mendekatkan diri dan mencapai keridhoan-Nya.
Metafisika (Bahasa Yunani: μετά (meta) = "setelah atau di balik", φύσικα (phúsika) = "hal-hal di alam") adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?
Tokoh pembela metafisika Plotinos : Semua pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan dan mutlak. To Hen beremanasi pada Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe (jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah, yaitu meion.
Karl Jaspers
· Metafisika merupakan upaya memahami Chiffer ; symbol yang mengantarai eksistensi dan transendensi.
· Manusia adalah Chiffer paling unggul, karena banyak dimensi kenyataan bertemu dalam diri manusia.
· Manusia merupakan suatu mikrokosmos, pusal kenyataan; alam, sejarah, kesadaran, dan kebebasan ada dalam diri manusia.
· Metafisika : berarti membaca Chiffer, transendensi keilahian, sebagai kehadiran tersembunyi.
· Chiffer adalah jejak, cermin, gema atau bayangan transendensi.
Manfaat tasawuf metafisika bagi pengembangan ilmu, mengajarkan cara berfikir yang serius, mengajarkan sikap open-ended, melahirkan berbagai aliran, menuntut orisinalitas berfikir, mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir, kunci bagi akhir pengada, mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain, membentuk paradigm ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. M. solihin M.Ag., Ilmu tasawuf,pustaka setia bandung. 2011
(http://www.scribd.com/doc/460794/Definisi-Tasawuf)
http://hetiindriawati.blogspot.com/2009/11/makalah-metafisika.html
http://aftanet.blogspot.com/2011/05/metafisika-hubungan-asumsi-terhadap.html

No comments:

Post a Comment